Daaaarrr …!
Bola basket kesayangan Galih meledak tertindas truk.
Galih hanya bisa terpaku melihat bola basketnya meledak tertindas truk di depan
matanya tanpa dapat dihentikan. Seketika itu juga, Galih turun dari motornya
dan langsung menghampiri gadis yang menabraknya tadi.
“Heh! Kamu punya mata ga sih?”, makinya kepada gadis itu.
“Punya. Nih …”, jawab gadis itu sambil menunjuk pada
kedua matanya. Galih sejenak kagum dengan keberanian gadis itu kepada dirinya.
“Ya kalo punya dipakek dong ! Tuh liat akibatnya!
Gara-gara kamu bola basket kesayanganku meledak!”, maki Galih lagi setelah
sadar ia tidak boleh kagum sama gadis itu, karena gadis itu yang menyebabkan
bola basketnya tertabrak truk dan meledak.
“Iya, aku juga baru mau minta maaf sama kamu kok. Maaf
ya, ga sengaja. Aku terburu-buru nih…”, jawabnya dengan tatapan memelas.
Dan sepertinya Galih tidak peduli dengan tatapan memelas
gadis itu, tetap meledak-ledak
amarahnya. Ia tidak terima bola basket kesayangannya itu hancur sia-sia.
Fay yang dari tadi hanya bisa melihat pertengkaran Galih
dan gadis itu akhirnya memilih untuk melerai mereka, karena sepertinya
pertengkarannya semakin panjang dan rumit saja.
“Galih udah dong…”, lerai Fay sambil menarik lengan Galih
mundur menjauh dari gadis itu.
“Udah, ikhlasin aja, ntar beli lagi yang lebih bagus dari
itu. Lagipula mungkin ini emang uda saatnya bolamu itu untuk berhenti dipake,
kan bola itu emang uda tua”, kata Fay lagi.
“Tapi kan…”, kata-kata Galih terhenti karena telunjuk Fay
yang ditempelkan di bibirnya. Mengisyaratkan ia untuk berhenti protes dan
marah-marah.
Akhirnya Galih naik motor tanpa berbicara sepetah katapun
kepada Fay dan juga gadis yang menabraknya itu. Galih menunggu Fay yang sedang
berbicara pada gadis yang menabraknya tadi. Entah mereka membicarakan apa,
Galih tidak peduli.
Lalu setelah Fay selesai berbicara kepada gadis itu, ia
kembali ke tempat Galih memarkirkan motornya. Fay naik di jok belakang motor
Galih, dan segera saja cowok itu ngebut dengan kecepatan tinggi. Fay bisa
mengerti mengapa ia begitu, pacarnya itu mungkin masih dongkol dengan kejadian
tadi. Mereka melewati perjalanan tanpa berbicara sepatah katapun.
Sesampainya di rumah Fay, Galih berhenti di depan pagar
rumah yang bernuansa putih tersebut. Fay turun dari motor.
“Makasih ya… km ga mau masuk dulu?”, tanyanya sambil
tersenyum.
“Ega ah… aku lagi bete, takutnya ntar malah ngomong
macem-macem lagi ama ortumu. Salam buat mereka aja deh…”, jawab Galih setelah
melihat senyum Fay. Dia emang gak tahan dengan senyum Fay yang menurutnya
sangat manis dan menggemaskan itu.
“Ya udah. Hati-hati di jalan ya… jangan ngebut lho”,
wanti-wanti Fay sebelum Galih pergi. Jujur saja ia merasa khawatir dengan
kondisi Galih yang sedang emosi itu jika naik motor di jalan.
nb: tetep tunggu kelanjutannya yaak :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar