4.06.2013

Dan Aku pun Ada - ch 1


Tepat pukul 17.30. Fay tersenyum sambil melihat ke arah lapangan basket. Lalu seorang cowok datang menghampirinya sambil terengah-engah dan keringat bercucuran di  sekujur tubuhnya.
            “Maaf, nunggu lama ya ?”, tanya cowok itu.
        “Enggak kok, kan aku uda biasa kayak gini”, jawab Fay sambil tersenyum.

            Galih, cowok pemain basket yang tersohor di kampusnya itu adalah pacar Fay, cewek yang aktif di segala kegiatan kampusnya. Jadi bisa dibilang mereka adalah pasangan yang lumayan terkenal di kampus mereka. Siapa sih yang gak kenal Galih, mahasiswa Fakultas Teknik Mesin yang ganteng, tinggi, pemain basket, dan otaknya lumayan encer pula. Dia selalu dikerubungi para penggemarnya, apalagi kalau dia lagi latihan basket, para penggemarnya ga pernah absen untuk melihat aksinya dan menimbulkan gemuruh di lapangan basket. Namun walau Galih selalu dikerubungi oleh cewek-cewek penggemarnya, Fay, mahasiswi Fakultas Ekonomi yang imut, pinter, dan aktivis di kampusnya ini, tetep merasa enjoy dan hebatnya dia ga pernah menunjukkan rasa cemburunya kepada sang pacar. Dan ini yang bikin Galih gelisah sendiri, karena dia takut kalau ceweknya itu jangan-jangan uda ga cinta lagi sama dia. Makanya Galih mengajukan idenya kepada sang pacar untuk menemaninya setiap dia latihan basket. Dan hasilnya cukup lumayan, para penggemarnya yang gak pernah absen dari jadwal latihan basketnya, kini sudah mulai berkurang karena mereka lagsung mundur karena ada sang pacar yang setia menunggunyadi pinggir lapangan. Dan sekarang tinggal beberapa orang saja yang masih juga nekat walaupun sudah ada pacar sang idola yang nagkring di pinggir lapangan. Paling-paling setelah pulang dari melihat idolanya main basket, mereka cuma panas dingin karena mereka masih teringat kemesraan Galih dan Fay di lapangan.
            “Ayo pulang”, kata Galih setelah ia selesai membersihkan diri.
            “Eh, tapi anterin aku beli buku dulu ya, di Gramedia”
            “Oke..”, jawabnya sambil menggandeng cewek imut itu menuju parkiran motor.
            Sampai di parkiran, Galih segera saja menyalakan motornya dan langsung melesat meninggalkan parkiran dengan Fay di jok belakang.
            Sampai di Gramedia, Fay meninggalkan Galih yang sedang memarkirkan motornya, masuk ke toko buku besar yang lumayan terkenal di kotanya itu, mencari buku ke bagian rak-rak yang menyimpan buku-buku ekonomi yang tebal dan berat. Sedangkan Galih segera menyusulnyadan hanya mengikutinya dari belakang sambil membolak-balik buku apasaja yang diraihnya, tanpa membaca lebih lanjut buku yang dipegangnya.
            “Mbak, buku ekonomi yang lengkap di bagian mana ya ?”, tanya  Fay kepada salah satu pegawai toko tersebut.
            Sambil memilih-milih buku yang ingin dibelinya, Fay melirik ke arah Galih yang tetap dengan kesibukannya membolak-balik buku yang dipegangnya. Sejenak ia tertawa melihat kelakuan pacarnya itu, bagaimana tidak, Galih, mahasiswa jurusan teknik mesin melihat-lihat buku ekonomi, jelas saja ia tidak mengerti isi buku tersebut, pikir Fay.
            Setelah mantap dengan buku pilihannya, Fay mengajak Galih ke kasir. Ia membayar buku yang tebalnya hampir sama dengan bantalnya di rumah itu dengan tiga lembar uang seratus ribuan. Selesai membayar, mereka menuju ke tempat penitipan barang untuk mengambil tas mereka yang tadi mereka titipkan sebelum masuk toko, dan tidak lupa Galih mengambil bola basket kesayangannya.
            Tempat parker sepeda motor yang biasanya penuh sesak oleh pengunjung yang menitipkan motornya, kini tinggal beberapa motor saja yang tampakdi situ, mungkin karena jam sudah menunjukkan saatnya sholat Magrib.
            Saat Galih ingin menyeberang dari tempat parker motor menuju jalan raya, tiba-tiba saja ada seorang cewek yang berlari menyerobot jalan, ia terlihat sangat terburu-buru. Dan tidak sengaja saat cewek itu berlari, tubuhnya menabrak bahu Galih yang sedang nangkring di atas motor dengan Fay di belakangnya. Dan seketika motornya oleng, tapi Galih masih dapat menguasainya sehingga mereka tidak jadi jatuh. Namun tas bola basket yang di sampirkan di bahunya terjatuh, bola basket kesayangannya menggelinding ke jalanan. Dan pada saat yang sama, sebuah truk gandeng melesat cepat dan seketika menabrak bola basket Galih. Dan …



nb: ini cerpen yang aku buat waktu SMA lho.. Tadi tiba2 nemu ini lagi, jd pingin posting hehe :D
Tunggu kelanjutannya yaaak~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar